delapantoto — Sebuah foto dengan teknik multiple exposure menangkap spanduk yang terpasang dalam peringatan 19 tahun Aksi Kamisan di seberang Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 15 Januari 2026. Momen ini menandai hampir dua dekade perjalanan panjang aksi diam yang tak pernah padam.
Keteguhan di Bawah Payung Hitam
Para peserta aksi, yang identik dengan payung dan pakaian hitam, telah menunjukkan konsistensi yang luar biasa. Setiap Kamis, mereka berdiri di depan Istana Merdeka, menyuarakan tuntutan yang sama: keadilan dan penyelesaian tuntas berbagai kasus kemanusiaan masa lalu. Warna hitam yang mereka kenakan bukan sekadar atribut, melainkan simbol keteguhan hati dan duka yang terus membara akibat impunitas yang masih menyelimuti banyak kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia.
Jejak Panjang Sejak 2007
Aksi damai ini pertama kali digelar pada 18 Januari 2007. Pada awalnya, aksi ini diikuti terutama oleh keluarga korban pelanggaran HAM berat, seperti peristiwa 1965, Tragedi Semanggi, dan penghilangan paksa aktivis. Mereka berkumpul untuk saling menguatkan dan mengingatkan negara akan tanggung jawabnya.
Ruang Ingatan Kolektif
Dalam perjalanan 19 tahun, Aksi Kamisan telah berevolusi menjadi lebih dari sekadar unjuk rasa keluarga korban. Aksi ini telah bertransformasi menjadi ruang ingatan kolektif bagi publik. Di bawah payung hitam, memori akan tragedi seperti Trisakti, Semanggi I & II, hingga pembunuhan aktivis Munir, terus dipelihara. Ini adalah bentuk perlawanan terhadap lupa, sebuah upaya sistematis untuk menolak penghapusan sejarah kelam bangsa.
Keunikan aksi ini juga terlihat dari cara para peserta muda mengadaptasi simbol-simbol budaya pop, seperti mengibarkan bendera dari anime One Piece, menunjukkan bahwa semangat perjuangan ini terus diteruskan ke generasi baru dengan bahasa mereka sendiri.
Wajah Ketabahan: Ibu Sumarsih
Salah satu ikon ketabahan dalam aksi ini adalah Ibu Sumarsih, ibu dari Bernardinus Realino Norma Irawan (Wawan), korban Tragedi Semanggi I 1998. Kehadirannya yang konsisten dari tahun ke tahun, baik dalam foto jelas maupun siluet, menjadi pengingat nyata tentang harga mahal yang dibayar keluarga biasa dalam gejolak politik bangsa. Perjuangannya mewakili suara ribuan korban lain yang menuntut pertanggungjawaban.
Setelah 19 tahun, Aksi Kamisan tetap berdiri. Ia adalah penanda waktu yang berdetak pelan namun pasti, mengingatkan bahwa selama keadilan belum ditegakkan, maka suara dari tepi trotoar Istana itu akan terus bergema, dari Kamis ke Kamis, menolak untuk dilupakan.
